galeri

galeri
islamic

Selasa, 21 Desember 2010

ALLOH SWT TAHU KALAU KITA SIBUK

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan kan meneguhkan kedudukanmu”
(QS Muhammad : 7)

Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Sebagai seorang kader dakwah atau aktivis mahasiswa yang berjuang membawa panji Islam, sudah seharusnyalah kita mempunyai hubungan yang kokoh dan kuat dengan Allah SWT (Quwwatush-shilah billah). Dan sesungguhnya, kalau kita sadari ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hubungan tersebut.
Di dalam buku Al Mustakhlash Fii Tazkiyatil Anfus, Al Ustadz Said Hawwa menuliskan paling tidak ada 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagi wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Mulai dari shalat, zakat-infak-shodaqoh, shaum, haji, tilawah Qur’an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.
Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, apalagi ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas kita di kampus disaat-saat kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru seperti sekarang(OSPEK, MENTORING, etc). Hal tersebut wajar, karena kita memang sangat jarang mengaliri qalbu kita dengan siraman-siraman ruhani berupa sarana-sarana yang telah disediakan oleh Allah SWT tersebut. Atau istilah HP-nya, kita jarang mengeces baterai-baterai ruhani kita dengan amaliyah tersebut.
Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik : sibuk-lah, repot-lah, banyak rapat dan agenda kegiatan lain (yang insya Allah juga untuk kepentingan dakwah Illalah-red), alias susah mendapatkan waktu senggang untuk menyiram tanaman ruhiyah kita.

Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Kadangkala kalau kita berkumpul dengan sesama ikhwah, sesama kader dakwah, aktivis mahasiswa yang komitmen dengan nilai-nilai Islam--entah dalam majelis ilmu, halaqoh pekanan, syuro’ atau majelis-majelis zikir yang lain-- kita merasa mendapatkan setetes embun kesejukan di tengah gersangnya hati kita dan seolah kita mendapatkan siraman air hujan di tengah teriknya padang pasir, dan ketika itu kita ingat bahwa ruhiyah kita sedang sangat kekeringan dan dalam hati kita bertekad untuk mencoba melakukan amal-amal kebaikan yang dapat mengantarkan kita untuk terus mendapatkan nuansa kesejukan itu.

Namun, Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Apa yang terjadi begitu kita keluar dari majelis-majelis tersebut ..?, ketika kita kembali bertemu dengan aktivitas yang menumpuk…?, ketika kita kembali di tengah-tengah kondisi yang ternyata tidak mendukung kita untuk tetap istiqomah…?. Ternyata, kita kembali menjadi manusia-manusia yang sibuk, bahkan manusia super sibuk (mudah-mudahan tidak menjadi manusia yang sok sibuk) dan kita lupakan sebuah niatan kita untuk melakukan siraman-siraman yang bisa menyuburkan iman kita.
Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah kita untuk melakukan siraman-siraman dan pengecesan baterai ruhiyah kita. Dan yang perlu kita sadari bahwa kesibukan kita tidaklah akan pernah selesai, karena sebagai seorang muslim kita harus berprinsip, bahwa istirahat kita adalah perpindahan dari satu aktivitas ke aktivias yang lain, dan istirahat yang sejati kita adalah ketika kita bertemu dengan maut dalam keadaan siap untuk mempersembahkan amal-amal yang terbaik untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan Rabb kita. Insya Allah.. . Dan ingatlah sebuah pesan dari Al Imam Hassan Al Banna, bahwa “Kewajiban dakwah kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”.

Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Mari kita renungkan bersama satu firman Allah SWT berikut ini :
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang ynag bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringnan kepada kamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan ornaa-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian nikmat Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an itu dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengn pinjaman ynag baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Muzzamil :20).

Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa :
- Allah SWTmnegetahui bahwa kemampuan kita dalam berqiyyamulllail berbeda–beda, ada yang hampir mampu mencapai 2/3 malam, ada yang mampu setengah malam, dan ada pula yang speretiga malam.
- Allah SWT-lah yang menentukan ukuran-ukuran siang dan malam.
- Allah SWT menegtahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan mampu melakukan kewajiban (ya……KEWAJIBAN, karena waktu itu qiyyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum muslimin).
- Allah SWT mengetahui bahwa diantara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada pula yang sibuk berperang fii sabilillah..
Meskipun Allah SWT mengetahui kesibukan kita, namun Dia tetap memerintahkan kepada kita untuk :
 membaca Al qur’an (bahkan diulang sampai 2 kali) sesuai dengan kemudahan kita.
 Menegakkan shalat
 Membayar zakat
 Memberikan pinjaman yang baik kepada Allah SWT (sedekah dan semacamnya)
 Banyak-banyak beristighfar
Artinya, kalau kita kita sesuaikan dengan kondisi kita saat ini, betapapun kesibukan yang melanda kita, padatnya agenda aktivitas kita dan banyaknya jadwal rapat ini dan koordinasi itu, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhiyah kita dan mengecesnya dengan berbagai sarana yang ada.
Ada banyak cara yang ditawarkan Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan penyegaran ruhiyah kita. Diantaranya adalah :
Kita harus men-split waktu-waktu yang kita miliki agar muncul menjadi beberapa saat, sehingga dihadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Ada sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW. Waktu itu ada seorang sahabat bernama Hanzhalah yang bertemu sahabat Abu Bakar Ash-shidiq radhiyallahu ‘anhu. Begitu bertemu, Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, ”Nafaqa Hanzhalah” (Hanzhalah menjadi munafiq). Mendengar pernyataan seperti itu Abu Bakar kaget, lalu bertanya, ”Kenapa ?”. Hanzhalah menjawab “Kalau saya berada di majelis Rasulullah SAW, seakan saya melihat dengan mata kepala sendiri suasana surga dan neraka, akan tetapi ketika saya bertemu dengan anak-anak dan istri saya, saya semua lupa apa yang saya rasakan tadi”. Mendengar penjelasan seperti itu, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu, sama seperti saya.”. Singkat cerita mereka menghadap Rasulullah saw dan menceritakan perasaan dan problem mereka, nabi saw menjawab :”………, akan tetapi sa-’ah wa sa’-ah”. Maksudnya bagilah (split-lah) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu. (HR. Bukhari).
Kita harus pandai memanfaatkan “serpihan-serpihan” waktu kita dan mendayagunakannya untuk melakukan siraman ruhiyah kita dan pengecesan baterai qalbu kita. Daripada sibuk mencari obyek untuk “cuci mata”, lebih baik kita menyibukkan diri kita dengan berdzikir sambil berjalan ke kampus. Daripada melamun hal-hal jorok, mungkin kita bisa tilawah qur’an atau membaca buku sambil menunggu teman lain yang belum datang untuk rapat, dan banyak peluang kebaikan yang lain yang sesungguhnya bisa kita siasati, jika kita bersungguh-sungguh.
Pada suatu ketika Rasulullah saw memperingatkan kita dengan sabdanya : “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang memberat-beratkan diri sendiri kecuali agama itu akan mengalahkannya, karenanya luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis) dan meminta tolonglah dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam”. (HR Bukhari).

Ikhwah fillah rahimakumullah….,
Terakhir sekali, kita harus pandai mendiversivikasi kegiatan/aktivitas kita dengan berbagai ragam kegiatan agar tidak cepat bosan, ingatlah bahwa, “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan bosan sehingga kita bosan, dan bebanilah jiwa ini sesuai dengan kadar kemampuannya dan bahwasanya amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang kontinu” (HR Ahmad, Abu Daud, dan An Nasa’i).
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq, bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqomah diatas jalan-Nya dan memberikan kemudahan kepada kita mencapai jannah-Nya. Amiin.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim dalam buku Rambu-rambu Amal)


“Dan katakanlah, ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS At Taubah :105)

Senin, 20 Desember 2010

CINTA DALAM ISLAM

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

sungguh luar biasa Indonesia ini. di kala masyarakat lg berduka , di probolinggo, di merapi dan sebagainya justru malah Presiden berhura-hura lihat bola, bahkan membeli ratusan tiket yg harganya jutaan.
apakah dengan ini smua

Sabtu, 18 Desember 2010

Amal yang Tetap Bermakna


Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.
Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.
Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.
Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.
Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.
Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.
Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.
Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahuakbar.***
Bundel by UGLY --- Jan '02
Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.
Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, "
Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada ALLOH.
Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.
Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.
Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2) Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub, maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaran untuk diri sendiri.
Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah". Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat, maka kita juga yang akan menanggungnya.
Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.
Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan kita dengan pulas.
Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah. ***

Jumat, 17 Desember 2010

Bagaimana Dengan Hatimu

Segala puji bagi Allah yg telah menghiasi hidup ini dengan cahaya kasih sayanknya yg telah meruah penuh hingga kemilaunya meresap pada tiap kalbu yg selalu tertunduk akan kebesarannya. karena itu kalbu orang yang beriman selalu bersinar dan menyinari segala tatap dan langkah pada tiap titian kehidupannya sampai akhirnya dapat menyingkapkan tabir kerinduan pada sang kekasih pujaan Allah SWT.

Kalbu atau hati ibarat cermin, kalau cermin itu bersih dari kotoran dan noda, maka segalanya dapat terlihat, namun kebalikannya apabila cermin itu kotor maka kita tidak dapat lagi membedakan suatu rupa yg baik atau buruk. lalu bagaimana caranya agar hati ini bersih kembali yaitu dengan segera bertaubat ,dan bersungguh-sungguh untuk memelihara hatinya agar tetap bersih. Rasulullah SAW memberikan solusi lain agar hati ini tetap bersih yaitu banyak mengingat mati ,membaca Alqur'an, dan berdzikir .

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar berkata : Wahai Rasulullah dimanakah Allah..,dibumi atau dilangit..?,maka beliau menjawab..:didalan hati hamba2nya yang beriman. Didalam sebuah hadist Qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman : Bumi dan langitku tidak dapat memuatku, tetapi hati hambaku yg berimanlah yg lemah lembut dan tenang yg dapat memuatku. Karena itu Umar berkata : ' Hatiku melihat Tuhanku..'

Karena itu kita dianjurkan untuk berdo'a agar Allah selalu mengisi kisi kalbu ini hingga segala karunia dan kemuliaan illahi selalu terbuka dan menyemayam abadi. Banyak cara agar kita selalu berdekatan dengan Allah SWT, salah satunya adalah dengan selalu mengingatnya dalam tiap riak kehidupan sehingga bilur kerinduan untuk berjumpa dengannya akan tersemai subur dan indah. Dalam sebuah hadist qudsi dikatakan Didalam hati orang-orang yang selalu berbuat baik ada sebuah kerinduan untuk berjumpa denganku, Padahal kerinduanku untuk berjumpa dengan mereka adalah lebih besar lagi. Maka barangsipa yg memiliki kebahagiaan ini maka ia menjadi orang alim yang Rabbani, hal ini juga dikatakan oleh Ali ra bahwa Allah mempunyai tempat di buminya, yaitu Hati. Hati yang lembut terhadap saudara-saudaranya seagama, Hati yg teguh dalam urusan agamanya, dan Hati yang jernih dalam keyakinannya.

Rasulullah SAW meriwayatkan dalam sebuah Hadist Qudsi : Aku [ Allah SWT ] mendatangi mereka dengan wajahku . Tahukah engkau jika aku menghadapkan wajahku padanya, dan apakah yang akan kuberikan padanya..?, yaitu kuberikan cahayaku yg aku lemparkan kedalam hati mereka, maka mereka mengabarkan tentangku sebagaimana aku mengabarkan tentang mereka.

Sesungguhnya orang-orang mukmin berjalan diatas cahaya Allah SWT sehingga ia tidak takut lagi kecuali kepada allah SWT, tidak cemas kecuali kepada Allah, tidak meminta kecuali kepada Allah SWT, maka ketika itulah Allah menjadi pendengar yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya , menjadi tangan yang ia memegang tangannya, dan mejadi kaki yang ia berjalan dengannya, subhanallah..

Terakhir , bahwa Hati ini memiliki pintu yang padanya setan menembus menuju pintunya yang behubungan dengan alam ghaib, setan membisikan didalamnya sebagaimana Malaikat membisikkan. Sifat tercela merupakan tempat setan menuju hati, oleh karena itu dengan Bismillah dan selalu berdo'a agar kita membuka hati ini dengan cahaya Illahi dan menutupnya dari tiap intaian pandangan syaitan yg menyesatkan.
Wassalamu'alaikum wr wb.

Bagaimana Dengan Hatimu

Segala puji bagi Allah yg telah menghiasi hidup ini dengan cahaya kasih sayanknya yg telah meruah penuh hingga kemilaunya meresap pada tiap kalbu yg selalu tertunduk akan kebesarannya. karena itu kalbu orang yang beriman selalu bersinar dan menyinari segala tatap dan langkah pada tiap titian kehidupannya sampai akhirnya dapat menyingkapkan tabir kerinduan pada sang kekasih pujaan Allah SWT.

Kalbu atau hati ibarat cermin, kalau cermin itu bersih dari kotoran dan noda, maka segalanya dapat terlihat, namun kebalikannya apabila cermin itu kotor maka kita tidak dapat lagi membedakan suatu rupa yg baik atau buruk. lalu bagaimana caranya agar hati ini bersih kembali yaitu dengan segera bertaubat ,dan bersungguh-sungguh untuk memelihara hatinya agar tetap bersih. Rasulullah SAW memberikan solusi lain agar hati ini tetap bersih yaitu banyak mengingat mati ,membaca Alqur'an, dan berdzikir .

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar berkata : Wahai Rasulullah dimanakah Allah..,dibumi atau dilangit..?,maka beliau menjawab..:didalan hati hamba2nya yang beriman. Didalam sebuah hadist Qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman : Bumi dan langitku tidak dapat memuatku, tetapi hati hambaku yg berimanlah yg lemah lembut dan tenang yg dapat memuatku. Karena itu Umar berkata : ' Hatiku melihat Tuhanku..'

Karena itu kita dianjurkan untuk berdo'a agar Allah selalu mengisi kisi kalbu ini hingga segala karunia dan kemuliaan illahi selalu terbuka dan menyemayam abadi. Banyak cara agar kita selalu berdekatan dengan Allah SWT, salah satunya adalah dengan selalu mengingatnya dalam tiap riak kehidupan sehingga bilur kerinduan untuk berjumpa dengannya akan tersemai subur dan indah. Dalam sebuah hadist qudsi dikatakan Didalam hati orang-orang yang selalu berbuat baik ada sebuah kerinduan untuk berjumpa denganku, Padahal kerinduanku untuk berjumpa dengan mereka adalah lebih besar lagi. Maka barangsipa yg memiliki kebahagiaan ini maka ia menjadi orang alim yang Rabbani, hal ini juga dikatakan oleh Ali ra bahwa Allah mempunyai tempat di buminya, yaitu Hati. Hati yang lembut terhadap saudara-saudaranya seagama, Hati yg teguh dalam urusan agamanya, dan Hati yang jernih dalam keyakinannya.

Rasulullah SAW meriwayatkan dalam sebuah Hadist Qudsi : Aku [ Allah SWT ] mendatangi mereka dengan wajahku . Tahukah engkau jika aku menghadapkan wajahku padanya, dan apakah yang akan kuberikan padanya..?, yaitu kuberikan cahayaku yg aku lemparkan kedalam hati mereka, maka mereka mengabarkan tentangku sebagaimana aku mengabarkan tentang mereka.

Sesungguhnya orang-orang mukmin berjalan diatas cahaya Allah SWT sehingga ia tidak takut lagi kecuali kepada allah SWT, tidak cemas kecuali kepada Allah, tidak meminta kecuali kepada Allah SWT, maka ketika itulah Allah menjadi pendengar yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya , menjadi tangan yang ia memegang tangannya, dan mejadi kaki yang ia berjalan dengannya, subhanallah..

Terakhir , bahwa Hati ini memiliki pintu yang padanya setan menembus menuju pintunya yang behubungan dengan alam ghaib, setan membisikan didalamnya sebagaimana Malaikat membisikkan. Sifat tercela merupakan tempat setan menuju hati, oleh karena itu dengan Bismillah dan selalu berdo'a agar kita membuka hati ini dengan cahaya Illahi dan menutupnya dari tiap intaian pandangan syaitan yg menyesatkan.
Wassalamu'alaikum wr wb.

Kamis, 16 Desember 2010


4 Golongan Lelaki Ahli Neraka
________________________________________

Di hari akhirat, ada 4 golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yang tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. Mereka ialah :


1. Ayahnya
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar shalat, mengaji & sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

2. Suaminya
Apabila sang suami tidak memperdulikan tindak-tanduk isterinya. Bergaul bebas di luar, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram. Apabila suami berdiam diri walaupun dia seorang alim, seperti tidak pernah lalai shalat, puasa tidak ketinggalan. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya.

3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga saudara wanita jatuh ke pangkuan abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran ISLAM, tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.

4. Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari Islam, bila ibu berbuat kemungkaran, pengumpat, & sebagainya, maka anak itu akan ditanya dan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak.

Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat, maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.

Firman ALLAH SWT: "HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA DI MANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA, JIN DAN BATU-BATU..."

Harga seorang muslim adalah sangat berharga. Allah SWT nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA, semua kaum muslim dijamin masuk syurga (siapa pun yang mengucapkan kalimah tauhid), oleh karena itu janganlah kita membuang atau tidak mengindahkan janji dan peluang yang Allah SWT berikan pada kita. WAllohu A'lam Bi Showab